Sosbang di Balikpapan, Hj. Fitri Maisyaroh ST: Cinta Tanah Air, Semangat Wawasan Kebangsaan

Sosbang di Balikpapan, Hj. Fitri Maisyaroh ST: Cinta Tanah Air, Semangat Wawasan Kebangsaan

LatestIDN, Balikpapan – Hj. Fitri Maisyaroh ST, Anggota DPR Kaltim, mengajak masyarakat untuk senantiasa cinta tanah air dan memiliki semangat wawasan kebangsaan. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi kebangsaan (sosbang) ke-12 yang dilaksanakan di Jalan Ars. Muhammad Kelurahan Klandasan Ulu Kec. Balikpapan Kota, Rabu (20/12/2023) pukul 16:00 WITA.

“Cinta tanah air adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap warga negara. Cinta tanah air dapat diwujudkan dengan berbagai cara, seperti menjaga kelestarian lingkungan, menghormati perbedaan, dan turut serta dalam pembangunan bangsa,” ujarnya.

Legislator dari Komisi IV ini juga mengingatkan pentingnya wawasan kebangsaan bagi setiap warga negara. Wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Wawasan kebangsaan penting untuk dimiliki agar kita dapat memahami dan menghayati nilai-nilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ia juga menyampaikan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ia mengajak masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

“Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan kunci untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia,”

“Saya berharap seluruh masyarakat Indonesia dapat senantiasa cinta tanah air dan memiliki semangat wawasan kebangsaan. Dengan cinta tanah air dan semangat wawasan kebangsaan, maka masyarakat Indonesia akan dapat hidup berdampingan dengan rukun dan damai, serta mampu mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menjadi negara yang sejahtera dan makmur,” pungkasnya. (*)

Wakil Ketua DPRD Bontang Soroti Penundaan Proyek Pembangunan Turap Sungai Guntung

Wakil Ketua DPRD Bontang Soroti Penundaan Proyek Pembangunan Turap Sungai Guntung

Bontang.Wakil Ketua DPRD Bontang, Agus Haris, mengungkapkan bahwa penundaan proyek pembangunan turap sungai di RT 11 Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara, disebabkan oleh relokasi rumah warga. Agus Haris menjelaskan bahwa dalam rapat di dewan telah disepakati untuk sepenuhnya menyerahkan masalah pembangunan turap kepada pemerintah.

“Pada saat rapat di dewan, sudah ada kesepakatan bahwa masalah pembangunan turap diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah,” ujarnya.

Dalam proyek ini, Pemerintah Kota Bontang menganggarkan dana sebesar Rp1,5 miliar melalui APBD murni. Namun, rencana anggaran tersebut tidak mencakup relokasi rumah warga yang terkena proyek pembangunan turap.

Agus Haris menegaskan bahwa meskipun penanggung jawab utama proyek adalah pemerintah, DPRD Bontang tetap akan mengawasi jalannya proyek ini. Jika pada bulan September masih belum terlihat pergerakan dalam proyek ini, DPRD berencana untuk mengundang pihak pemerintah guna membahas kendala yang mungkin muncul.

“Jika hingga September belum ada perkembangan, kami akan mengundang pemerintah untuk membahas masalah ini. Kami ingin tahu di mana letak hambatannya,” ungkapnya.

Selanjutnya, politisi dari Partai Gerindra ini menjelaskan bahwa ada dua rumah yang belum bersedia untuk direlokasi karena masih belum memiliki lahan yang layak. Agus Haris berpendapat bahwa pendekatan persuasif bisa dilakukan dalam hal ini, dengan melibatkan tokoh adat untuk memberikan penjelasan kepada warga bahwa penyelesaian masalah banjir ini adalah kepentingan bersama.

“Kami berpendapat bahwa pendekatan persuasif bisa menjadi solusi, dengan melibatkan tokoh adat untuk menjelaskan bahwa penanganan banjir ini adalah kepentingan bersama,” tegasnya.

Fasial  Dorong Pembangunan Penangkaran Buaya Pasca Tragedi Serangan Buaya

Fasial Dorong Pembangunan Penangkaran Buaya Pasca Tragedi Serangan Buaya

Bontang. Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang, Faisal, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang untuk membangun penangkaran buaya sebagai respons terhadap tragedi serangan buaya yang baru-baru ini terjadi di Kelurahan Guntung. Faisal mengungkapkan keprihatinannya terhadap serangan-serangan buaya yang terjadi secara berulang. Menurutnya, hewan buas ini semakin berkeliaran karena habitat mereka terganggu oleh pembangunan yang semakin banyak.

“Ini bukan pertama kalinya, bahkan sudah sangat sering warga menjadi korban serangan buaya. Beberapa kali juga terjadi di Selambai, meskipun belum sampai menyebabkan korban jiwa,” ujarnya.

Politikus dari Partai Nasdem ini menyoroti pentingnya pembangunan penangkaran buaya sebagai langkah untuk memudahkan evakuasi hewan-hewan buas tersebut. Dengan adanya penangkaran, diharapkan dapat mengurangi resiko serangan buaya terhadap penduduk sekitar.

Faisal juga mengemukakan potensi positif dari pembangunan penangkaran buaya. Ia menegaskan bahwa penangkaran ini tidak hanya memberikan keamanan, tetapi juga bisa menjadi daya tarik wisata baru yang dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bontang.

“Penangkaran buaya tidak hanya memberikan perlindungan bagi warga, tetapi juga bisa menjadi tempat wisata edukatif dan sarana pembelajaran bagi masyarakat mengenai buaya. Selain itu, penangkaran ini dapat menjadi sumber pendapatan yang berpotensi meningkatkan PAD Bontang,” paparnya.

Faisal berharap Pemerintah Kota Bontang dapat segera mempertimbangkan pembangunan penangkaran buaya sebagai upaya melindungi warga serta meningkatkan potensi pariwisata dan ekonomi daerah.

Faisal Soroti Kondisi Pulau Gusung, Harapkan Pemkot Berikan Perhatian Lebih

Faisal Soroti Kondisi Pulau Gusung, Harapkan Pemkot Berikan Perhatian Lebih

Bontang. Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang, Faisal, mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya perhatian yang diberikan kepada Pulau Gusung. Menurutnya, pemerintah terkesan lebih fokus pada pengembangan Pulau Melahing untuk masuk dalam 50 besar desa wisata di Indonesia, sementara pulau-pulau pesisir lainnya seperti Gusung, Tihi-Tihi, dan Selangan membutuhkan perhatian terkait kondisi infrastrukturnya.

Faisal menyoroti khususnya kondisi Pulau Gusung yang saat ini terancam oleh abrasi. Ia menekankan bahwa pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih luas, bukan hanya mempromosikan Pulau Melahing saja. “Penting bagi pemerintah untuk tidak hanya fokus pada Pulau Melahing, melainkan juga memberikan perhatian kepada pulau-pulau pesisir lainnya yang membutuhkan penanganan, seperti Pulau Gusung,” ujarnya.

Pulau Gusung, yang terletak di Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara, memiliki sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) dengan mayoritas penduduknya menggantungkan mata pencahariannya pada sektor nelayan dan petani rumput laut. Pulau ini hanya dapat diakses melalui transportasi laut dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit dari Pelabuhan Loktuan atau Pelabuhan Tanjung Limau.

Faisal mengungkapkan bahwa abrasi air laut menjadi ancaman serius bagi Pulau Gusung. Selain itu, pulau ini juga masih sangat kekurangan fasilitas umum seperti listrik, air bersih, dan pendidikan. Pulau yang dulunya memiliki luas hingga sekitar 1.000 meter dengan lebar 500 meter, kini mengalami penyusutan menjadi 780 meter dengan lebar 150 meter.

“Dalam rangka menjaga keberlanjutan pulau-pulau pesisir, penting bagi pemerintah untuk memberikan perhatian yang adekuat, termasuk dalam hal penanganan abrasi, penyediaan fasilitas dasar, dan infrastruktur yang lebih baik,” tambah Faisal.

BW Dorong Pemanfaatan OPD untuk Meningkatkan Pendapatan Daerah

BW Dorong Pemanfaatan OPD untuk Meningkatkan Pendapatan Daerah

Bontang. Dalam upaya mewujudkan kemandirian fiskal di Kota Taman, Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang, Bakhtiar Wakkang (BW), mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk memanfaatkan potensi setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam meningkatkan retribusi daerah. Bakhtiar, yang akrab disapa BW, percaya bahwa setiap OPD memiliki potensi yang dapat berkontribusi pada pendapatan anggaran daerah (PAD).

Dalam penyampaian pandangannya dalam rapat paripurna di kantor DPRD Bontang, Senin (7/8/2023), BW mengungkapkan bahwa strategi untuk mencapai target Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) tidak hanya terbatas pada sektor pajak. Potensi pendapatan dari sektor lain, seperti pariwisata, pembangunan berkelanjutan, tata ruang, dan pendidikan, juga dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Jadi bukan hanya dari pajak yang bisa mendapatkan PAD, melainkan sektor lain juga bisa dimanfaatkan,” ucapnya.

Lebih lanjut, BW menghimbau pemerintah untuk terus berkoordinasi dengan OPD guna mengembangkan inovasi-inovasi yang dapat meningkatkan potensi pendapatan. Dia memandang kemandirian fiskal sebagai tanggung jawab bersama, di mana setiap OPD diharapkan berperan aktif dalam memaksimalkan potensi retribusi daerah.

“Dalam rangka mencapai kemandirian fiskal, kita semua memiliki tanggung jawab, dan OPD juga dapat berupaya maksimal dalam memanfaatkan potensi untuk retribusi daerah,” tutupnya.

Ketua DPRD Bontang Inginkan Calon Pj Gubernur Kaltim Harus Mewakili Kepentingan Masyarakat

Ketua DPRD Bontang Inginkan Calon Pj Gubernur Kaltim Harus Mewakili Kepentingan Masyarakat

Bontang. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, mengungkapkan pandangannya terhadap isu mengenai rekomendasi calon Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) yang diajukan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dalam responsnya, Andi Faizal menegaskan bahwa DPRD Bontang memiliki perhatian khusus terhadap calon-calon yang akan diusulkan oleh DPRD Kaltim.

Menurut Politisi Partai Golkar ini, calon yang akan terpilih sebagai Pj Gubernur Kaltim harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai karakteristik masyarakat, kondisi lingkungan, dan alam bumi Kalimantan Timur.

“Dari kami, yang terpenting adalah bahwa calon yang diusulkan harus memiliki kemampuan untuk mewakili kepentingan seluruh lapisan masyarakat di Kaltim,” ujarnya.

Andi Faizal juga menyoroti peraturan yang berlaku, di mana DPRD Kaltim memiliki wewenang untuk memberikan rekomendasi calon-calon Pj Gubernur Kaltim kepada Kemendagri. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 4/2023 tentang Penjabat Gubernur, Penjabat Bupati, dan Penjabat Wali Kota.

Sebagai catatan, Gubernur Kaltim saat ini, Isran Noor, akan mengakhiri masa jabatannya pada Oktober 2023. Oleh karena itu, pimpinan DPRD Kaltim tengah berupaya melakukan pembahasan internal untuk merumuskan tiga nama calon yang akan diusulkan sebagai opsi pengganti.

Sejumlah nama calon Pj Gubernur Kaltim telah muncul dalam diskusi publik, meskipun belum mencapai kesepakatan final. Beberapa nama yang mencuat termasuk Rektor Universitas Mulawarman Abdunnur, Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Akmal Malik serta Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin.

Pandangan Andi Faizal Sofyan Hasdam mencerminkan perhatian DPRD Bontang terhadap pemilihan calon Pj Gubernur Kaltim yang dapat mewakili dan memenuhi kepentingan luas masyarakat Kalimantan Timur.

Ketua DPRD Bontang Kritik Rendahnya Serapan Anggaran Perubahan 2023 di OPD

Ketua DPRD Bontang Kritik Rendahnya Serapan Anggaran Perubahan 2023 di OPD

Bontang. Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya serapan anggaran perubahan tahun 2023 di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Bontang. Ia menyoroti bahwa serapan anggaran hingga saat ini belum mencapai tingkat yang diharapkan.

Dikatakan Faisal, harusnya pada Agustus ini, serapan anggaran sudah melebihi 50 persen dari total anggaran. Namun, kenyataannya baru sekitar 30 persen yang terealisasi. Menurutnya, Wali Kota perlu menggenjot kinerja OPD dalam hal penyerapan anggaran. Terlebih lagi, APBD perubahan mengalami kenaikan sebesar Rp700 miliar dari jumlah sebelumnya yaitu Rp2,2 triliun.

“Kami memiliki APBD perubahan yang kini mencapai Rp2,6 triliun, namun serapan anggaran yang masih rendah menjadi perhatian. Hingga saat ini, serapan anggaran di semua OPD hanya sekitar 30 persen,” jelasnya.

Andi Faizal juga menambahkan bahwa angka tersebut menunjukkan bahwa sekitar Rp1 triliun anggaran harus dihabiskan dalam waktu empat bulan ke depan. Dimana anggaran sebesar itu yang belum terserap menjadi tantangan bersama. Dan perlu dipastikan bahwa perencanaan dan pelaksanaannya dilakukan secara tepat sasaran.

Selain itu, Andi Faizal juga menyampaikan kekhawatirannya terkait penolakan usulan reses dari para anggota DPRD untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan infrastruktur lingkungan. Padahal, usulan tersebut merupakan hasil dari aspirasi masyarakat.

“Kami khawatir bahwa anggaran yang sebesar itu tidak akan terserap secara maksimal dan berakhir sebagai sisa anggaran (silpa),” tambahnya.

Kritik dari Ketua DPRD ini menunjukkan perhatian terhadap efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran publik guna mendukung pembangunan dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Nursalam Usulkan Pendepositan Anggaran Daerah untuk Tingkatkan Pendapatan Asli Daerah

Nursalam Usulkan Pendepositan Anggaran Daerah untuk Tingkatkan Pendapatan Asli Daerah

Bontang. Anggota Komisi II DPRD Bontang, Nursalam, mengajukan usulan kepada pemerintah untuk melakukan pendepositan anggaran daerah yang tidak terpakai. Menurutnya, langkah ini memiliki potensi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota. usulan tersebut disampaikannya dalam rapat paripurna penandatangan Nota Perubahan KUA-PPAS 2023 yang diadakan di Pendopo, Rujab Wali Kota Bontang, pada Jumat (18/8/2023).

“Jika pemerintah melakukan pendepositan anggaran sejak awal tahun, kita dapat menghasilkan sekitar Rp 7 miliar daripada membiarkan anggaran tersebut tidak dimanfaatkan. Selain itu, peraturan juga memperbolehkan hal ini dilakukan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Nursalam menjelaskan bahwa usulan ini diajukan karena potensi PAD di Bontang belum mencapai tingkat maksimal dan masih sulit untuk meningkatkan PAD melalui pajak dan retribusi. Hal ini juga disebabkan oleh ketiadaan perjanjian kinerja antara Wali Kota dan 13 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

“Selama ini, tugas OPD hanya difokuskan pada peningkatan PAD tanpa adanya target yang konkret. Jika tidak ingin menggunakan bank eksternal, pendepositan anggaran tersebut tetap bisa dilakukan melalui Bank Pembangunan Daerah (BPD),” jelasnya.

Usulan Nursalam ini memiliki tujuan untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran daerah yang tidak terpakai agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PAD Bontang. Dengan mendepositokan dana tersebut, diharapkan kota dapat memanfaatkan potensi sumber daya secara lebih efektif untuk kepentingan pembangunan dan pelayanan masyarakat.

Raking dorong Peningkatan Anggaran Sektor Ekonomi untuk Reduksi Kemiskinan

Raking dorong Peningkatan Anggaran Sektor Ekonomi untuk Reduksi Kemiskinan

Bontang. Anggota DPRD Bontang, Raking, mengungkapkan harapannya agar alokasi anggaran sektor ekonomi dapat ditingkatkan dalam Rancangan APBD Perubahan 2024. Menurutnya, peningkatan anggaran pada sektor ekonomi sangat penting untuk mengurangi angka kemiskinan, terutama karena hingga saat ini belum terjadi penurunan yang signifikan.

Hal tersebut diungkapkan Raking pada Rapat Paripurna penandatangan Nota Kesepakatan Rancangan Perubahan KUA dan Rancangan Perubahan PPAS (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2023 di Pendopo, Rujab Wali Kota Bontang, pada Jumat (18/8/2023).

“Saya memberikan saran kepada Wali Kota untuk meningkatkan alokasi anggaran yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah angka kemiskinan. Anggaran yang begitu besar seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mengatasi permasalahan ini, mengingat angka kemiskinan di Bontang masih relatif tinggi,” ungkapnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bontang, angka kemiskinan di tahun 2022 mengalami penurunan. Namun, penurunannya tergolong kecil, hanya turun sebanyak 20 jiwa atau setara 0,08 persen dari data warga miskin pada tahun 2021.

Angka kemiskinan di Bontang pada tahun 2022 mencapai 8.390 jiwa atau setara 4,54 persen. Sementara pada tahun 2021, jumlah warga miskin mencapai 8.410 orang atau setara 4,62 persen.

Raking berpendapat bahwa peningkatan alokasi anggaran pada sektor ekonomi dapat memberikan dampak positif terhadap penurunan angka kemiskinan. Dengan pengembangan sektor ekonomi yang lebih kuat, masyarakat dapat lebih terlibat dalam kegiatan produktif yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi dalam mengurangi angka kemiskinan.

Ketua DPRD Bontang Soroti Kepala OPD yang Sering Absen dalam Rapat Kerja

Ketua DPRD Bontang Soroti Kepala OPD yang Sering Absen dalam Rapat Kerja

Bontang. Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang kerap absen dalam setiap agenda rapat kerja yang diundang ke kantor DPRD Bontang, di Bontang Lestari.

Kritik tersebut diungkapkan oleh Andi Faizal saat berlangsungnya Rapat Paripurna penandatangan Nota Kesepakatan Rancangan Perubahan KUA dan Rancangan Perubahan PPAS (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2023 di Pendopo, Rujab Wali Kota Bontang, yang berlangsung pada Jumat (18/8/2023).

“Andaikan rapat yang diadakan oleh DPRD hanya pertemuan biasa, mungkin absennya Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bisa diakomodir. Namun, kita semua tahu bahwa rapat di DPRD adalah forum penting untuk membahas permasalahan publik dan mencari solusi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Politikus dari Partai Golkar ini menegaskan bahwa DPRD memiliki posisi yang sejajar dengan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran Kepala OPD dalam rapat kerja sangat penting untuk memastikan kelancaran koordinasi dan pemahaman mengenai isu-isu yang dibahas.

“Kami merasa kecewa karena sering kali Kepala OPD tidak hadir dalam rapat kerja. Ini menyebabkan ketidakpahaman terkait pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Pemerintah Kota. Ketika Komisi III bertanya tentang progress pekerjaan, kami kesulitan memberikan jawaban karena Kepala OPD yang berwenang tidak pernah hadir,” paparnya.

Andi Faizal mengingatkan bahwa tanggung jawab Kepala OPD bukan hanya terbatas pada kegiatan internal, tetapi juga harus aktif berpartisipasi dalam forum-forum eksternal seperti rapat kerja DPRD. Kehadiran yang konsisten dan aktif dalam rapat kerja akan berkontribusi positif terhadap transparansi, akuntabilitas, dan koordinasi antara eksekutif dan legislatif.

Copyright © 2026 LatestIDN