Refleksi Sensitivitas Perlawanan Pemuda dan Kepahlawanan

Refleksi Sensitivitas Perlawanan Pemuda dan Kepahlawanan

LatestIDN, Opini – Dulu, pengalihan hajat pribadi selalu tersalurkan melalui perlawanan kita terhadap penjajahan di bangsa ini. Sensitivitas kita melawan ketidakadilan adalah semangat perlawanan, namun adaptasi perlawanan pun terbagi menjadi dua fase. Fase dominasi perasaan membuat ide dan nalar kita tersampingkan, sehingga fisik dilawan dengan fisik. Kemudian, fase harmoni antara nalar dan rasa, hati, serta pikiran bangsa ini perlahan-lahan tersusun dengan hadirnya para pemuda yang berpikir, belajar, dan beramal, sehingga kemerdekaan diraih dengan gagasan Indonesia. Kini, pun kadang urusan dunia kita juga masih bisa teralihkan karena perlawanan penjajahan, walaupun bukan di bangsa kita.

Hari ini, perlawanan harus tetap hadir, karena inilah fitrah kita sebagai negara yang telah merdeka demi menjaga tugas kita sebagai sebuah bangsa. Hanya saja, terkadang semangat perlawanan ini tetap butuh nalar dan rasa. Bila tidak, kita akan menjadi korban pengotakan. Jika hanya mengandalkan dominasi perasaan, bisa jadi kita menjadi alat yang sangat mudah dikotak-katik pada hal-hal yang bersifat sementara, melanggar persaudaraan demi sosok yang diidamkan, memutus pertemanan demi euforia perpolitikan. Sobat, “2024” hanyalah proses pencapaian kepemimpinan; hadapi dengan kebahagiaan sebagai bangsa, harmonikan nalar dan rasa dengan belajar dan bersosial. Apalagi setiap kejadian di muka bumi ini tak lepas dari takdir.

Karena pahlawan bukan hanya mereka yang bisa meraih kemenangan, tapi mereka yang ada dalam proses kemenangan. Minimal, mari menang melawan ego kita. Karena belum pernah aku berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwaku sendiri, yang terkadang membantu dan terkadang menentangku.

Salam saudaraku,
Sulthan Nur Hidayatullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 LatestIDN