Pentingnya Kompetensi Pekerja dalam Perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-80

Pentingnya Kompetensi Pekerja dalam Perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-80

Hai, pembaca Latest Indonesia

Dirgahayu Indonesia Ke 80 !!

Agustus selalu punya nuansa berbeda di hati masyarakat Indonesia. Dari kampung sampai kota besar, semua orang ikut merayakan dengan semangat merah putih. Demi Perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-80, gapura dibangun, tiang panjat pinang didirikan, permainan tujuh belasan disiapkan. Karet gelang, kelereng, sendok, botol, kerupuk, karung, bahkan permainan “Kuuk geruu..” pun disiapkan.

Lapangan ramai dan meriah dengan bendera berwarna warni digantung. Tukang makanan? Nah ini kesukaan saya. Biasanya sudah berkerumun di dekat lapangan dari pagi. Mengharap dibeli oleh peserta lomba 17an.

Tahun ini, Indonesia genap berusia 80 tahun sejak meraih kemerdekaan. Angka yang tidak kecil, dan tentu saja mengingatkan kita pada perjalanan panjang bangsa ini. Tapi di balik semua keceriaan lomba tujuh belasan, ada satu hal yang sebenarnya sangat relevan untuk dipikirkan: kompetensi pekerja Indonesia.

Mengapa begitu? Karena kemerdekaan sejatinya bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tapi juga kemampuan kita untuk berdiri tegak, mandiri, dan mampu bersaing di dunia global. Dan kunci utamanya ada pada kompetensi.

 

Kompetensi sebagai Bentuk Kemerdekaan Baru

 

Kalau dulu pahlawan berjuang dengan bambu runcing, sekarang perjuangan kita berbeda. Kita dituntut bersaing dalam dunia kerja yang makin kompetitif. Perusahaan membutuhkan pekerja yang bukan hanya rajin, tapi juga kompeten—punya pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai.

Kompetensi bisa jadi tolok ukur kemerdekaan baru. Karena pekerja yang kompeten punya kebebasan lebih: bebas memilih pekerjaan, bebas mengembangkan diri, dan bebas menggapai jenjang karier. Jadi, bisa dibilang kompetensi itu “senjata modern” kita dalam mempertahankan kedaulatan ekonomi bangsa.

 

Perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-80 - Luki Tantra

Mengisi Kemerdekaan Lewat Peningkatan Diri

 

Kemerdekaan ke-80 ini bukan sekadar momen nostalgia, tapi momentum untuk introspeksi. Apakah kita, sebagai pekerja, sudah benar-benar mengisi kemerdekaan ini dengan cara yang tepat?

Misalnya, banyak perusahaan kini menuntut sertifikasi kompetensi. Ini bukan sekadar formalitas, tapi bukti bahwa seorang pekerja memang ahli di bidangnya. Pekerja yang punya sertifikasi lebih dihargai, dipercaya, dan tentu saja lebih mudah naik level. Jadi, mengisi kemerdekaan bisa dimulai dari hal kecil: ikut pelatihan, meningkatkan skill,ambil sertifikasi kompetensi atau bahkan sekadar belajar hal baru tiap hari.

 

Relevansi dengan Perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-80

 

Setiap kali upacara bendera, kita mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang. Ada rasa haru, bangga yang membuncah menyesakkan dada, sekaligus semangat untuk lebih baik. Nah, semangat itulah yang harus dibawa ke dunia kerja. Perayaan kemerdekaan jangan hanya berhenti di euforia lomba makan kerupuk, balap karung atau mindahin kelereng, tapi juga dijadikan pengingat bahwa bangsa ini butuh sumber daya manusia yang unggul.

Bayangkan kalau semua pekerja di Indonesia kompeten, produktif, dan profesional. Bukan mustahil Indonesia bisa jadi pusat tenaga kerja berkualitas di Asia, bahkan dunia. Dan itu sejalan dengan cita-cita kemerdekaan: membuat rakyat sejahtera dan dihormati bangsa lain.

 

 

Ucapan Selamat Hari Kemerdekaan Dari PT Tenaga Kerja Kompeten Indonesia

Tantangan di Era Globalisasi

 

Di usia 80 tahun, Indonesia menghadapi tantangan baru. Globalisasi, revolusi industri 4.0, hingga artificial intelligence membuat persaingan kerja semakin ketat. Pekerja yang tidak mau meningkatkan kompetensi bisa tertinggal.

Di sisi lain, ini peluang besar. Indonesia punya bonus demografi dengan jumlah tenaga kerja muda yang melimpah. Kalau generasi muda ini dibekali kompetensi yang mumpuni, mereka bisa jadi motor penggerak ekonomi nasional. Jadi, penting bagi pemerintah, perusahaan, dan juga individu untuk menjadikan kompetensi sebagai prioritas.

 

Semangat Gotong Royong untuk Kompetensi

 

Semangat kemerdekaan identik dengan gotong royong. Dan nilai itu bisa diterapkan dalam konteks pengembangan kompetensi. Perusahaan bisa menyediakan program pelatihan, pemerintah bisa memperluas akses sertifikasi (dulu bahkan ada program PSKK dari BNSP setiap tahun), sementara pekerja sendiri punya tanggung jawab untuk aktif belajar.

Kolaborasi inilah yang akan membuat kompetensi pekerja Indonesia meningkat secara merata. Tidak ada lagi kesenjangan antara yang terampil dan yang tidak, sehingga semua bisa bersama-sama mengangkat bangsa ini ke level yang lebih tinggi.

Terakhir, Kemerdekaan ke-80 seharusnya jadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Kalau dulu kita berjuang merebut kemerdekaan, sekarang kita berjuang mempertahankannya lewat kompetensi. Pekerja kompeten bukan hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk perusahaan, masyarakat, dan bangsa.

Jadi, di tengah semarak bendera merah putih dan tawa anak-anak lomba balap karung, mari kita renungkan satu hal: kemerdekaan sejati adalah ketika setiap pekerja Indonesia mampu berdiri dengan kompetensinya, bersaing dengan percaya diri, dan berkontribusi nyata bagi negeri.

(*) (*)

 

Luki Tantra
Luki Tantra – Tenaga Kerja Kompeten Indonesia

Luki Tantra,

Penulis adalah pengamat dan Trainer bidang K3 dan sangat concern dengan kompetensi, Saat ini menjadi Senior Advisor di PT. Tenaga Kerja Kompeten Indonesia. Beliau juga Tersertifikasi  Master Trainer BNSP, Asesor Kompetensi BNSP, dan pernah menjabat menjadi Ketua Salah satu Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Bidang K3.

Copyright © 2026 LatestIDN