Agus Haris Kritik Penggunaan Pelabuhan Loktuan untuk Distribusi Bahan Peledak

Agus Haris Kritik Penggunaan Pelabuhan Loktuan untuk Distribusi Bahan Peledak

Bontang. Wakil Ketua DPRD Bontang, Agus Haris, mengungkapkan kritiknya terhadap perusahaan-perusahaan penghasil bahan peledak di Bontang yang menggunakan Pelabuhan Loktuan untuk proses distribusi. Menurutnya, keputusan ini berpotensi membahayakan keselamatan penumpang, mengingat pelabuhan tersebut juga melayani penyeberangan penumpang.

“Kondisi ini sangat berbahaya karena pelabuhan yang digunakan untuk distribusi bahan peledak juga melayani penumpang. Meskipun kegiatan bongkar-muat dihentikan saat ada kapal penumpang, risiko tetap ada dan tidak perlu diambil,” tegasnya.

Agus Haris juga menyoroti fakta bahwa perusahaan-perusahaan ini telah beroperasi dalam jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, pendapatan yang mereka peroleh dari produksi seharusnya dapat dialokasikan untuk membangun infrastruktur pelabuhan khusus mereka sendiri.

Dalam konteks potensi berkurangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) akibat langkah ini, Agus Haris menegaskan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan. BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) masih dapat menjalin kerja sama dalam proses bongkar-muat, meskipun perusahaan-perusahaan tersebut memiliki pelabuhan sendiri.

“Kerja sama tetap dapat berjalan. Terlebih lagi, BUMD sudah terlibat dalam proses distribusi ini selama ini,” paparnya.

Agus Haris mendorong upaya untuk memperoleh pelabuhan khusus ini setelah ia mendapatkan informasi bahwa anak-anak yang tinggal di sekitar pelabuhan mengalami masalah kesehatan, seperti kebocoran pada jantung. Meskipun belum ada bukti konkret bahwa masalah kesehatan tersebut disebabkan oleh aktivitas bongkar-muat bahan peledak, Agus Haris berpendapat bahwa langkah antisipatif perlu diambil.

Rustam Dorong Pemanfaatan Potensi Pariwisata untuk Mengantisipasi Pasca Migas

Rustam Dorong Pemanfaatan Potensi Pariwisata untuk Mengantisipasi Pasca Migas

Bontang. Ketua Komisi II DPRD Bontang mengajak pemerintah dan masyarakat untuk lebih menggali potensi sektor pariwisata yang ada di Kota Taman sebagai upaya antisipasi pasca era migas. Pasca industri migas, Bontang perlu beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan salah satu caranya adalah dengan mengembangkan sektor pariwisata.

“Sejauh ini, Bontang masih sangat bergantung pada sektor migas. Untuk menghadapi masa pasca migas, kita harus mengajak pemerintah dan masyarakat untuk memanfaatkan sektor pariwisata. Upaya ini perlu dilakukan sejak dini untuk meningkatkan perekonomian,” ujarnya.

Menurut Rustam, pengembangan sektor pariwisata tidak hanya sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Kota Bontang, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Dengan menggali potensi pariwisata, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Bontang juga akan mendapatkan peluang yang lebih luas.

Rustam lebih lanjut mengingatkan bahwa pemerintah perlu lebih aktif dalam memanfaatkan sektor pariwisata sehingga ekonomi dapat berkembang seimbang. Hal ini juga akan membantu mengurangi angka pengangguran di Bontang.

“Pemanfaatan potensi pariwisata tidak hanya akan memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga akan berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bontang. Karena itu, mari kita lebih dalam menggali sektor pariwisata kita,” ungkapnya.

Rustam juga meminta agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, khususnya Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Bontang, untuk lebih aktif dalam menggali potensi pariwisata. Menurutnya, potensi pariwisata di Bontang cukup menjanjikan dan bisa menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi pasca era migas.

“Pemanfaatan potensi wisata adalah langkah yang tepat, terlebih lagi Bontang memiliki beragam destinasi wisata yang menarik dan diminati oleh wisatawan dari luar. Oleh karena itu, sektor pariwisata perlu digarap dengan serius karena memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pasca era migas,” tegasnya.

Amir Tosina Soroti Penundaan Renovasi Kantor Lurah Berbas Pantai

Amir Tosina Soroti Penundaan Renovasi Kantor Lurah Berbas Pantai

Bontang. Penundaan rencana renovasi Kantor Lurah Berbas Pantai tahun ini telah memicu perhatian DPRD Bontang. Masalah ini sebenarnya sudah diantisipasi sejak masa DPRD sebelumnya, yang menganggap bahwa perencanaan yang dilakukan sebelumnya tidak cukup menyeluruh.

Ketua Komisi III DPRD Bontang, Amir Tosina, menjelaskan bahwa dalam rapat dengan dewan sebelumnya, telah ditekankan bahwa renovasi kantor tersebut sangat diperlukan. Namun, ternyata muncul masalah terkait lahan yang telah direncanakan untuk proyek tersebut.

“Kami sudah menggarisbawahi bahwa Pemerintah Kota seharusnya lebih selektif dalam mengusulkan anggaran, terutama jika terkait dengan lahan yang memiliki status yang jelas,” ungkapnya.

Politisi dari Partai Gerindra ini menyampaikan kekecewaannya terhadap alokasi anggaran yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan karena adanya sengketa terkait status lahan. Menurutnya, Pemkot seharusnya tidak terburu-buru dalam mengalokasikan anggaran jika status lahan masih memunculkan keraguan.

“Kami akan memanggil pihak kelurahan, kecamatan, dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai masalah ini,” tambahnya.

Amir Tosina juga mengingatkan bahwa jika putusan pengadilan mengenai perkara ini telah dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Bontang, maka renovasi seharusnya dilakukan pada tahun depan. Ini artinya, jika Pemkot menang dalam perkara tersebut, alokasi anggaran yang telah dialihkan tahun ini harus diarahkan kembali untuk tahun depan.

Untuk informasi, Pemerintah Kota Bontang terpaksa menunda rencana renovasi Kantor Lurah Berbas Pantai tahun ini karena seorang warga mengajukan gugatan terkait status lahan ke Pengadilan Negeri Bontang. Padahal, Pemkot telah mengalokasikan dana sebesar Rp6,1 miliar untuk proyek renovasi ini.

Konsep bangunan yang direncanakan melibatkan pembangunan dua lantai, yang mencakup ruangan pejabat kelurahan dan tempat pertemuan. Luas bangunan mengalami sedikit perubahan dari pondasi lama, sementara lokasinya tetap dipertahankan. Artinya, bangunan akan dirobohkan dan dibangun kembali dengan desain yang baru.

Rencana Penutupan Sementara Jalan Pontianak Menuai Tanggapan, DPRD Bontang Minta Dukungan Masyarakat

Rencana Penutupan Sementara Jalan Pontianak Menuai Tanggapan, DPRD Bontang Minta Dukungan Masyarakat

Bontang. Rencana penutupan sementara akses di Jalan Pontianak, Kelurahan Gunung Telihan, Bontang telah mengundang tanggapan dari berbagai pihak. Langkah ini diambil dalam rangka memfasilitasi pembangunan ulang konstruksi jembatan yang saat ini memerlukan perhatian serius. Wakil Ketua Komisi III DPRD Bontang, Abdul Malik, meminta dukungan masyarakat untuk memahami dan mendukung keputusan ini mengingat kondisi jembatan yang saat ini memprihatinkan.

“Sangat penting untuk menghindari risiko membahayakan keadaan jembatan yang ada saat ini. Oleh karena itu, saya mengajak warga untuk menggunakan jalur alternatif selama proses pembangunan berlangsung,” ungkapnya.

Di sisi lain, Abdul Malik juga memberikan apresiasi terhadap upaya yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dalam membangun jembatan alternatif. Namun, ia menekankan bahwa keamanan harus menjadi faktor utama yang diperhatikan dalam pembangunan konstruksi sementara tersebut.

“Mengingat jembatan ini akan bersifat sementara dan terbuat dari bahan kayu, pembangunannya harus memenuhi standar yang ditetapkan agar keandalannya tetap terjamin,” tegasnya.

Meskipun Dinas PUPR belum memberikan informasi terinci mengenai kemajuan proyek pembangunan tersebut, progres pekerjaan rencananya akan segera dimulai. Proyek pembangunan jembatan Pontianak ini dibiayai oleh Bankeu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dengan total anggaran sekitar Rp6,9 miliar. CV Elza Jaya Prima telah terpilih sebagai pemenang tender untuk proyek ini.

Pekan ini, mesin yang akan digunakan untuk pemancangan tiang pondasi jembatan baru dijadwalkan akan tiba di Kota Taman. Setelahnya, tenaga kerja akan melanjutkan dengan perakitan jembatan baru sambil melakukan pembongkaran konstruksi jembatan lama yang dianggap tidak aman.

Proses pembongkaran tersebut akan mengakibatkan penutupan sementara ruas jalan di titik tersebut. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk menggunakan jalur alternatif yang telah disiapkan. Meskipun waktu pasti dimulainya pembongkaran belum dapat dipastikan, akan ada penanda yang akan menunjukkan saat proses tersebut dimulai.

Berdasarkan permintaan warga yang telah berdiskusi dengan Dinas PUPR sebelumnya, akan dibangun jalur alternatif sementara di belakang PLTMD. Jalur ini akan memiliki struktur berbahan kayu dan lebar sekitar satu meter. Diharapkan jalur sementara ini dapat digunakan oleh kendaraan roda dua sebagai solusi sementara.

DPRD Kutim Sarankan Pemkab Tawarkan Insentif Menarik bagi Dokter Spesialis

DPRD Kutim Sarankan Pemkab Tawarkan Insentif Menarik bagi Dokter Spesialis

LATESBONTANG – Anggota DPRD Kutai Timur (Kutim), Agusriansyah Ridwan menyarankan kepada Pemkab agar mengambil langkah-langkah strategis dalam mengatasi kekurangan dokter spesialis di sejumlah rumah sakit di daerah ini.

Hal itu disampaikan Agusriansyah menyikapi kurangnya dokter spesialis di rumah sakit (RS) Muara Bengkal, termasuk RS Sangkulirang dan RS Muara Wahau yang baru akan dibangun.

“Pemerintah harus mengambil langkah strategis, mendiskusikan dengan dinas-dinas terkait untuk kebutuhan dokter spesialis,” ujar Agusriansyah, Selasa (20/06/2023).

Ia menyebut keberadaan dokter spesialis ini sangat dibutuhkan, kerenya itu pemerintah daerah harus membangun komunikasi untuk cari solusi. Semisal menawarkan insentif yang menguntungkan agar dokter spesialis dari luar daerah bisa tertarik.

“Kita harus dengar keluhan mereka dan membuat mereka tertarik untuk mengabdi di daerah kita,” ucap Agusriansyah.

Tidak bisa dipungkiri, lanjut dia, jika para dokter spesialis itu praktek di kota, tentu pengahasilan mereka pasti akan besar.

“Kita harus temukan solusinya dan semuanya diperhitungkan, agar mereka tertarik dengan tarawan kita untuk bisa bekerja di daerah, salah satunya dengan perbaiki insetif mereka dan yang terpenting tidak menyalahi aturan,” ungkapnya.

Terkait dengan aturan, dalam hal ini Perbub yang mengatur insentif Rp 40 juta bagi dokter spesialis di RS Sangkulirang, Agusriansyah mengatakan, pemerintah harus melakukan perbaikan, sesuai keluhan dokter.

“Kita harus menyesuaiian dengan daerah lain. Karena mereka pergi karena memang menerima imbalan yang sesuai di daerah lain. Tapi kalau kita kasi minimal sama, kan tidak mungkin pergi, apalagi kalau kita kasi yang lebih menarik,” tandasnya.(adv).

Mediasi Sengeketa Lahan PT IM – Poktan KB Belum Ada Hasil, DPRD Kutim Akan Tinjau Lokasi

Mediasi Sengeketa Lahan PT IM – Poktan KB Belum Ada Hasil, DPRD Kutim Akan Tinjau Lokasi

LATESBONTANG – Panitia khusus (Pansus) DPRD Kutai Timur (Kutim) terpaksa harus menunda rapat dengar pendapat (RDP) memediasi kasus sengketa lahan yang melibatkan PT Indominco Mandiri (IM) dengan Kelompok Tani (Poktan) Karya Bersama (KB), Rabu (21/6/2022). Sebab, sejumlah pejabat dari instansi terkait serta owner perusahaan tak kunjung hadir.

Agenda rapat yang tertunda ini sejatinya tindak lanjut dari RDP yang sebelumnya telah dibahas di ruang yang sama, yakni Ruang Hearing DPRD Kutim, Bukit Pelangi.

Peserta rapat seperti Anggota DPRD Kutim Piter Palinggi, Dinas Pertanian Kutim, Dinas Perkebunan, Kelompok Tani Karya bersama, PT Indominco Mandiri, Perwakilan Polres dan Perwakilan Kodim 0909/KTM, yang sudah hadir sempat menunggu cukup lama. Namun karena sejumlah pejabat lainnya dan bos PT Indominco sebagai owner atau delegasi yang bisa mengambil keputusan di perushaan itu tak kunjung hadir, maka Ketua Pansus DPRD Kutim, Basti Sangga Langi memutuskan untuk menunda rapat.

“Kita akan menjadwalkan ulang pertemuan ini, karena dari Dinas Kehutanan Kutim tidak hadir, dari BPKH wilayah IV Samarinda tidak hadir, KPHP Santan juga tidak hadir, dan Pimpinan Perusahaan PT Indominco Mandiri yang bisa mengambil keputusan juga tidak hadir,” ucap Basti Sangga Langi.

Basti juga mengungkapkan dalam pertemuan selanjutnya, tidak lagi dengan rapat, namun terjun langsung ke lapangan.

“Sesuai pembicaraan rapat sebelumnya, BPKH akan membawa alat yang bisa mengetahui tanam tumbuh di lahan kelompok tani, supaya tidak mengada-ada bahwa alat itu bisa memonitor tanam tumbuh yang sekarang ini sudah menjadi lubang tambang,” ungkapnya.

Basti juga akan menyampaikan reschedule tersebut kepada pihak PT Indominco Mandiri setelah perayaan Hari Raya Idul Adha.

“Nanti akan kita sampaikan jadwal ulang kepada pihak Indominco bahwa nantinya kita akan turun langsung ke lokasi sengketa lahan tersebut,” pungkasnya.(adv).

Kejar Target Eliminasi ATM Tahun 2026, Ini Kata Dinkes Kutim

Kejar Target Eliminasi ATM Tahun 2026, Ini Kata Dinkes Kutim

LATESBONTANG – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dr Bahrani melalui Sub Koordinator Surveilans dan Imunisasi, Lely Pembriani mengatakan, Dinkes, Kutim saat ini, tengah memaksimalkan penanganan tiga penyakit kronis yang sampai sekarang belum teratasi, yakni AIDS-tuberculosis-malaria (ATM).

Proses eliminasi Program ATM ini dalam skala nasional di tahun 2030, namun untuk Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) ditargetkan proses eliminasinya di tahun 2026.

“Proses eliminasi artinya tidak zero kasus, tapi setidaknya ada syarat-syarat di masing-masing program. Kaltim untuk targetnya 2026 harus selesai dan ini pekerjaan berat untuk semua,” ucap Lely usai membuka kegiatan Workshop Pengembangan Jejaring Layanan TBC Dan Sosialisasi SITB di Hotel Royal Victoria, Kutim, Selasa (20/06/2023).

Lely menjelaskan pihak Dinkes Kutim akan melibatkan seluruh instansi kesehatan yang ada di Kutim untuk proses eliminasi program ATM.

“Wajib kita libatkan semua faskes, tidak mungkin Dinkes Kutim bekerja sendiri. Makanya kita adakan kegiatan workshop, karena sangat membutuhkan jejaring dan masalah kesehatan bukan hanya dinas kesehatan, tetapi semuanya terlibat,” ungkapnya.

Dirinya mengaku pihaknya terus berupaya untuk memaksimalkan proses eliminasi tersebut sesuai dengan target yang ada.

“Kita usahakan semoga kedepannya target yang ditentukan bisa kita selesaikan, untuk proses eliminasi program ATM ini,” pungkasnya.(adv)

Dinkes Kutim Perkuat Jejaring Layanan TBC dan SITB

Dinkes Kutim Perkuat Jejaring Layanan TBC dan SITB

LATESBONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bersama Dinkes Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar Workshop Pengembangan Jejaring Layanan Tuberculosis (TBC) dan Sosialisasi Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) di Wilayah Kutim, di Ruang MCC Hotel Royal Victoria, Selasa (20/06/2023).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Dinkes Kutim, Narasumber Dinkes Provinsi Kaltim, Ketua District Public Private Mix (DPPM) Kutim Hj. Siti Robiah Ardiansyah, Direktur/Pimpinan Rumah Sakit, Puskesmas dan Klinik peserta kegiatan workshop.

Dalam sambutannya, Kepala Dinkes Kutim Bahrani melalui Sub koordinator surveilans dan imunisasi Dinkes Kutim Lely Pembriani, mengatakan kegiatan workshop tersebut, selaras dengan End TBC Strategy yang telah menjadi komitmen global dan Pemerintah Indonesia, serta mengacu pada Sustainable Development Goals (SDG’s).

“Pemerintah Indonesia menetapkan rencana eliminasi lebih cepat di tahun 2030 dengan target menurunkan insiden TBC sebesar 65/100.000 penduduk dan penurunan angka kematian akibat TBC sebesar 6/100.000 penduduk,” papar Lely Pembriani.

Lely menjelaskan bahwa dengan target tersebut, maka tahun 2020 sampai tahun 2024 merupakan periode yang sangat krusial untuk percepatan menuju eliminasi tersebut.

“Dampak pandemic COVID-19 yang terjadi selama periode krusial ini, meningkatkan beban yang sangat besar bagi program TBC untuk mengembalikan peta jalan eliminasi tetap berada di jalurnya,” jelasnya.

Lely mengungkapkan saat ini di Kutim, ada 338 orang dewasa ternotifikasi kasus TBC dan 87 anak juga ternotifikasi kasus TBC yang telah di diagnosis dan treatment serta bersedia untuk diobati.

Lebih lanjut, untuk TB RO di Kutim artinya TB yang resisten dengan obat ditemukan 6 orang, namun yang mau memulai pengobatan hanya 3 orang saja.

“Adanya peningkat temuan kasus TB pada anak setiap tahunnya dan begitu jga dengan kasus TB-HIV. Treatment success rate target ada diatas 90 persen dan Kutim berada di bawah target selain karena ada kasus meninggal, juga banyak kasus TB yang putus dari pengobatan,” ungkapnya

Dirinya mengaku ada tiga strategi yang diperkuat melalui kegiatan workshop kali ini yakni, peningkatan akses layanan TB bermutu yang berpihak pada pasien, peningkatan peran serta komunitas, mitra dan multisektor lainnya dan penguatan manajemen program melalui penguatan sistem kesehatan.

“kami harap para peserta workshop dapat bekerjasama dan bersinergi dalam melaksanakan upaya implementasi tatalaksana program TBC dalam skrinning/deteksi, pengobatan serta pencatatan dan pelaporan yang sesuai standar, dengan membangun jejaring antar program atau unit di tempat kerja,” harapnya.

Sementara itu Kepala DPPM Kutim Hj Siti Robiah mengatakan sesuai dengan tujuan dan fungsinya akan menjadi fasilitator dalam membangun jejaring baik dalam rujukan sampel, pengobatan kasus TBC bahkan sampai pada memastikan sistem pencatatan dan pelaporan berjalan/terlaksana dalam sebuah mekanisme yang akurat dan terukur.

“DPPM Kutim bersedia terlibat aktif pada upaya/strategi lainnya dalam penanggulangan TBC, namun tetap berada pada koridor aturan dan kewenangan yang dimilikinya,” ucap istri dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.

Dirinya mengajak seluruh peserta workshop mengikuti semua paparan dengan sungguh-sungguh serta memastikan proses penginputan data penyakit TBC terlaporkan oleh masing-masing faskes ke dalam SITB.

“Semoga kontribusi ini dapat menjadi dukungan kita bagi negara Indonesia, untuk eliminasi tahun 2030 dan bagi masyarakat Kutai Timur dapat terbebas dari permasalahan penyakit TB,” pungkasnya.(adv).

Kasus DBD Meningkat di Bontang, Anggota DPRD Desak Pemkot Mengambil Tindakan

Kasus DBD Meningkat di Bontang, Anggota DPRD Desak Pemkot Mengambil Tindakan

Bontang. Tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bontang menjadi perhatian serius semua pihak, termasuk anggota DPRD Bontang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang mencatat sebanyak 161 kasus DBD terjadi dalam rentang waktu Januari hingga Mei 2023, dengan satu korban yang meninggal dunia.

Data Dinkes Bontang memperlihatkan bahwa 161 kasus DBD tersebar di tiga kecamatan di kota ini. Kecamatan Bontang Utara menjadi yang paling banyak, dengan 77 kasus, diikuti oleh Kecamatan Bontang Barat dengan 43 kasus, dan Kecamatan Bontang Selatan dengan 41 kasus.

Anggota Komisi I DPRD Bontang, Muhammad Irfan, menyoroti kondisi ini dan mendesak Pemerintah Kota Bontang untuk segera mengambil tindakan nyata, terutama dalam hal melakukan fogging. Ia menganggap bahwa jumlah 161 kasus dalam lima bulan bukanlah hal yang sepele, melainkan memerlukan penanganan yang serius.

“Bontang memiliki status sebagai daerah endemis untuk DBD, jadi kasus ini akan selalu ada. Namun, kita tidak boleh lengah dan harus segera menangani situasi ini,” ujarnya.

Muhammad Irfan memandang perlu adanya langkah-langkah konkret dalam penanganan DBD ini, termasuk kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui prinsip 3M. Ini mencakup menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup erat tempat penampungan air, serta mengubur barang-barang bekas yang bisa menjadi tempat berkembang biak bagi nyamuk DBD.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk memahami dan menerapkan PHBS dengan sungguh-sungguh. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari penampungan air yang tidak terkendali, kita dapat berkontribusi dalam pencegahan penyebaran DBD,” tegasnya.

Dalam situasi ini, Irfan juga berharap adanya kerjasama yang erat antara pemerintah daerah, dinas terkait, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan demi mengendalikan penyebaran nyamuk DBD.

Lambatnya Penanganan Kerusakan Infrastruktur di Bontang Menjadi Perhatian Serius DPRD

Lambatnya Penanganan Kerusakan Infrastruktur di Bontang Menjadi Perhatian Serius DPRD

Bontang. Masalah kerusakan infrastruktur di Kota Bontang terus menjadi perhatian utama karena lambatnya penanganan perbaikan yang mengkhawatirkan. Wakil Ketua Komisi III DPRD Bontang, Abdul Malik, menyuarakan keprihatinannya terhadap situasi ini. Beberapa jalan rusak yang sudah mengalami kerusakan bertahun-tahun lamanya belum mendapatkan perhatian serius dari dinas terkait. Selain berdampak pada mobilitas masyarakat, kerusakan infrastruktur juga dapat membawa dampak negatif pada sektor-sektor lain, termasuk ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Kita melihat contohnya lubang di trotoar Jalan WR Soepratman, sudah beberapa tahun lalu setelah penggalian pipa jargas, namun hingga saat ini belum ada upaya perbaikan yang signifikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Abdul Malik menjelaskan bahwa masalah infrastruktur seringkali memerlukan waktu lama untuk mendapatkan perbaikan, terutama karena keterbatasan anggaran. Jika masalah ini termasuk dalam anggaran yang sedang berjalan, maka perlu dilakukan pembahasan lebih lanjut. Ia juga mengamati bahwa ada beberapa titik di Bontang, khususnya di Bontang Barat dan Selatan, yang belum mendapatkan perhatian perbaikan yang memadai.

“Kami percaya bahwa jika ada alokasi anggaran khusus untuk penanganan darurat, perbaikan infrastruktur bisa dilakukan dengan lebih cepat. Oleh karena itu, pemerintah harus mempertimbangkan untuk menyediakan anggaran darurat khusus guna menangani perbaikan infrastruktur yang memang mendesak. Kita tidak ingin proses perbaikan terus berjalan lambat seperti ini,” tegasnya.

Abdul Malik juga menyoroti pentingnya penggunaan anggaran dengan bijak, terutama mengingat bahwa kajian induk saluran drainase se-Bontang akan segera rampung tahun ini. Ia berharap kajian tersebut dapat menjadi acuan dalam menentukan titik-titik prioritas untuk dilakukan perbaikan. Dia juga menekankan pentingnya tidak hanya fokus pada perbaikan yang lebih besar, tetapi juga memastikan bahwa titik-titik kecil yang memerlukan perbaikan mendapatkan perhatian.

“Kami berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat segera mengambil tindakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup warga, tetapi juga akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Bontang,” tutupnya.

Copyright © 2026 LatestIDN